Air Putih

Budayakan Hidup Sehat karena Sehat adalah Gaya Hidup

Kutitip surat ini untukmu…

Posted by drfatnan pada November 18, 2008

Kemarin, saat saya lagi buka email, ada email masuk dari sahabat saya, yang isinya perenungan untuk kita. Kita yang senantiasa disibukkan dengan berbagai macam urusan, hingga kadang (bahkan sering) lupa pulang, secara halus diingatkan dengan bijak oleh tulisan Armen Halim Naro, Lc… Semoga bermanfaat😉

Allahummaghfirlii..wa li wa lidayya warhamhuma kamaa robbayaani soghiro…

………………..
Assalamu’alaikum,
Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah
memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…
Wahai anakku, Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah
berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap
kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
Wahai anakku!
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini
lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.
Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…
Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.
Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi

Hangatnya sentuhanmu

Hangatnya sentuhanmu

menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan.
Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air ke kerongkonganku.

Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.
Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku!
Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti,
dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan

ibu mengajariku apapun

ibu mengajariku apapun

selalu kebaikan dan taufiq untukmu.
Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.

Ayo sholat
ajariku menyebut namaMu

ajariku menyebut namaMu

Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu.
saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir,
entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.
Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya
setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran.
Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu.
Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku
manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.
Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil
menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!!
Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.
Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.
Sekiranya engakau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman, “Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!” (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu
jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari
keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?! Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul
denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?

Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantumu . Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang
layak untukku wahai anakku! Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah
naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.

Semoga kau dimuliakan

Semoga kau dimuliakan

Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.
Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi. Anakku… Tidak tersentuhkah
hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan
belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?!
Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits:
“Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!” (HR. Ahmad)
Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang
keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.
Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya”, aku berkata: “Kemudian apa, wahai
Rasulullah?” Beliau bersabda: “Berbakti kepada kedua orang tua”, dan aku berkata: “Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”, lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)
Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.
Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?
Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang”, dikatakan, “Siapa dia,wahai Rasulullah?, Rasulullah menjawab, “Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga”. (HR. Muslim)
Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan
menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada dokter yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.
Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal… “Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…”
Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.

Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang
telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.

Wassalam,
Ibumu
Diketik ulang dari buku
‘Kutitip Surat Ini Untukmu’
karya Ustadz
Armen Halim Naro, Lc rahimahullah

——————————————

Fa bi Ayyi a Laa i robbikumaa tukadzdzibaan (ar Rahman)

Posted in Tauziyah | 10 Comments »

Download Soal UKDI (Viva 2004)

Posted by drfatnan pada Oktober 15, 2010

 

Next time we will meet..sukses ya!!

 

Special dedicated to Sahabat2ku Dokter Muda FK UN S, Dokter2 Senior lulusan FK UNS, khususnya Angkatan 2004 yang akan menempuh UKDI.

Kawanku, Perjalanan panjang menjadi dokter yang berkualitas bukanlah tanpa halangan. UKDI hanyalah awal..

Terus latihan dan latihan, yakinlah bahwa dokter lulusan FKUNS masih berjaya dimanapun.

Dokter lulusan FK UNS bisa berinteraksi dan bekerja sama dengan sejawat lulusan manapun. Tetap jalin silaturahmi,saling membantu dan sharing informasi..

Apakah kita bisa??? BISAAA!!

Apakah kita mampu?? MAMPU!! (Ini jargon kita kalo mau maen bola ato voli)

Sahabat..Perjuangan..baru dimulai..

Semoga sukses..dan Insya Alloh..teman2 pasti sukses!!🙂

Silakan download disini bagian 1  3MB (drfatnan)

Silakan download disini bagian 2 1 MB (drfatnan)

Tunggu update an lagi ya..

Tiap pagi doeloe sebelum pretes anatomi..

Kampus kita nih,,

Posted in Kesehatan | 4 Comments »

Download Refrat Psi

Posted by drfatnan pada Agustus 18, 2010

Silakan download refrat psi kita di http://www.4shared.com/document/eFjI9Knk/Refrat_Jiwa_Oke.html (utk power point)

dan file word di http://www.4shared.com/document/YOu5jzdn/Refrat-edit1.html

biar semua siap besok ya..

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Posted by drfatnan pada November 18, 2008

Muhammad ‘Ali bin Ismail Piliang Al Medani

Ayah dan ibu adalah dua orang yang sangat berjasa kepada kita. Malilui beliaulah kita terlahir di dunia ini. Keduanya menjadi sebab seorang anak bisa mencapai Surga. Do’a mereka ampuh. Kutukannya juga manjur. Namun betapa banyak sekarang ini kita jumpai anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Panti jompo menjamur di mana-mana, ini menunjukkan tidak mengertinya sang anak akan ‘harga’ kedua orang tua. Mereka titipkan kedua orang tuanya di sana dalam keadaan sengsara dan kesepian melewati masa-masa tuanya, sementara mereka bersenang-senang di rumah mewah. Kejadian seperti ini juga akibat kesalahan orang tua yang tidak memberikan pendidikan agama kepada anaknya.

Nash yang berbicara tentang perintah dan anjuran berbuat baik kepada kedua orang tua :

Dari Al Qur’anul Karim

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua … .” (An Nisa’ : 36)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat di atas : “Kemudian (setelah menyuruh bertauhid, pent.) Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Karena Allah menjadikan mereka berdua sebagai sebab keluarnya engkau dari ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’. Dan banyak sekali Allah menggandengkan perintah beribadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua.”

Katakanlah : “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Rabb kalian, yaitu janganlah mempersekutukan sesuatu dengan Dia dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua.” (Al An’am : 151)

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya ucapan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah : “Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Al Isra’ : 23-24)

“Dan Kami wajibkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kalian kembali lalu Aku khabarkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.” (Al Ankabut : 8)

Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan-Nya itu adalah kedhaliman yang besar.” Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku-lah kalian kembali maka Ku-beritahukan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. (Luqman : 13-15)

Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia dewasa dan umurnya telah sampai empat puluh tahun, ia berdoa : “Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri.” Mereka inilah orang-orang yang Kami terima dari mereka amalan yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka bersama penghuni-penghuni Surga sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al Ahqaf : 15-16)

Ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung di atas memberikan pelajaran kepada kita betapa besarnya kedudukan kedua orang tua. Kita wajib mematuhi keduanya selama keduanya menyuruh kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah.

Dari Hadits-Hadits Khairul Anam (Rasulullah, ed.) Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radliyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Ridla Allah terletak pada ridla orang tua. Dan kemarahan Allah terletak pada kemarahan orang tua.” (HR. Tirmidzi 1899, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)

‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash berkata : Datang seseorang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kemudian dia meminta ijin kepada beliau untuk berjihad. Maka beliau bersabda : “Apakah kedua orang tuamu masih ada?” Orang itu berkata : “Ya!” Beliau bersabda :

“Maka kepada keduanya, berjihadlah engkau.” (HR. Bukhari nomor 5972 dan Muslim nomor 2549)

Masih dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash ia berkata : Seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kemudian berkata : “Aku datang untuk berbaiat kepadamu untuk hijrah dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Mendengar hal itu, Nabi bersabda :

“Kembalilah engkau kepada keduanya. Maka buatlah keduanya tertawa sebagaimana sebelumnya engkau telah membuatnya menangis.” (HR. Abu Dawud nomor 2528 dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud nomor 2205)

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata : Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku sikapi dengan baik?” Beliau bersabda : “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi : “Kemudian siapa?” Beliau menjawab : “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi : “Kemudian siapa?” Beliau menjawab : “Ibumu.” Lalu orang itu bertanya lagi : “Kemudian siapa?” Beliau berkata : “Ayahmu.” (HR. Bukhari nomor 5971 dan Muslim nomor 2548)

Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Seorang anak tidak bisa membalas kebaikan orang tuanya kecuali jika dia mendapati orang tuanya sebagai budak, kemudian ia beli dan membebaskannya.” (HR. Muslim nomor 1510)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Amalan apakah yang paling disukai Allah?” Beliau menjawab : “Shalat tepat pada waktunya.” Aku katakan : “Kemudian apa?” Beliau menjawab : “Birrul Walidain (berbuat baik kepada orang tua).” Aku katakan : “Lalu apa?” Beliau menjawab : “Jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari nomor 5970 dan Muslim nomor 139)

‘Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Semoga terhina, semoga terhina, semoga terhina, orang yang mendapati kedua orang tuanya telah tua salah satunya atau keduanya tapi dia tidak bisa masuk Surga (karena keduanya, pent.).” (HR. Muslim nomor 2551)

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendoakan orang seperti itu agar terhina, maka bagaimana lagi kalau Nabi sudah berdoa?

Hadits-Hadits Yang Melarang Berbuat Durhaka Kepada Kedua Orang Tua

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radliyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Tiga orang yang tidak akan dilihat Allah di hari kiamat adalah orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, dan dayyuts (pria yang membiarkan istrinya bermaksiat). Dan tiga jenis orang yang tidak masuk Surga adalah orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, peminum (pecandu) khamr, dan pengungkit-ungkit pemberian bila diberi.” (Lihat Shahihul Jami’ nomor 3066 dan Ash Shahihah nomor 674)

Dari Mughirah bin Syu’bah radliyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada para ibu, mengubur anak wanita hidup-hidup, tidak mau menunaikan yang wajib, dan mengambil yang bukan haknya dari barang milik orang lain.” (HR. Bukhari nomor 5975 dan Muslim nomor 539)

Abu Bakrah menceritakan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa besar yang paling besar?” (Beliau mengulanginya sampai tiga kali). Maka kami berkata : “Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda : “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Ketika itu beliau bersandar kemudian duduk sambil berkata : “Ketahuilah begitu juga dengan ucapan dusta dan saksi dusta.” Beliau terus mengulang-ulangnya hingga kami berkata : “Semoga beliau diam.” (HR. Bukhari nomor 2653 dan Muslim nomor 87)

Dari Muadz bin Jabbal radliyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberiku sepuluh wasiat, beliau bersabda : “Janganlah engkau mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun walau engkau dibunuh dan dibakar hidup-hidup, jangan sekali-kali engkau durhaka kepada kedua orang tuamu walau keduanya menyuruhmu keluar dari keluargamu dan hartamu … .” (HR. Ahmad, dihasankan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihut Targhib nomor 567)

Contoh Dari Para Nabi

Ketika menuju Hudaibiyah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melewati daerah bernama Abwa’ yang di tempat itu ibunya dikuburkan. Saat itu beliau ditemani oleh para shahabat dan pasukan yang berjumlah seribu penunggang kuda berbaju besi. Maka beliau menyempatkan ziarah ke kubur ibunya dan menangis sehingga para shahabat di sekitar beliau ikut menangis. Beliau bersabda :

“Aku meminta ijin kepada Rabbku agar diperbolehkan memohonkan ampun untuk ibuku. Tapi Dia tidak mengijinkan. Dan aku meminta ijin untuk menziarahinya dan diijinkan. Maka ziarahilah kubur karena itu akan mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Muslim nomor 976 dan Abu Dawud nomor 3234 dan lain-lain)

Subhanallah, rasa kasih dan sayang Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam muncul ketika melewati tempat dikuburnya sang ibu yang wafat pada saat usia beliau masih kanak-kanak, empat tahun. Oleh karena itu beliau menangis. Dan tangis beliau membuat seribu pasukan ikut menangis. (Dari kitab Wabil Walidaini Ihsana, karya Su’ad Muhammad halaman 32)

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, bapaknya para Nabi begitu lemah lembut menasehati dan mendakwahi ayahnya kepada hidayah walau sang ayah telah menyakitinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan ucapan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam kepada ayahnya :

“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang padaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku. Niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (Maryam : 43)

“Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir engkau akan ditimpa adzab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka engkau menjadi kawan bagi syaithan.” (Maryam : 45)

Kata ‘ya abati’ adalah kata yang paling tinggi dalam penghormatan kepada ayah. Dan dengan kata ini, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam berbicara dengan ayahnya.

Mengapa Engkau Menyembunyikan Kebaikan?

Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah sikap yang mulia. Keutamaan keduanya telah lewat keterangannya. Ingatlah ketika engkau lemah.

Wahai Rabbku! Rahmatilah keduanya sebagaimana keduanya telah menyayangiku di waktu kecil.

Ibumu telah mengandungmu di perutnya selama sembilan bulan dalam penderitaan yang berganda. Ia mengandungmu dalam keadaan susah dan melahirkanmu dalam keadaan payah. Umurmu yang bertambah semakin menambah berat baginya. Ketika melahirkanmu seakan-akan kematian ada di depan matanya. Tapi ketika dia melihatmu di sisinya, sirnalah dengan cepat semua rasa sakit dan susahnya. Ia gantungkan padamu semua harapannya … . Ia melihat padamu ada cahaya hidup dan keindahannya … .

Kemudian ibumu sibuk melayanimu siang malam. Ia korbankan kesehatannya untukmu. Air susunya menjadi makananmu … . Pelukannya menjadi rumahmu. Tangan, punggung, dan dadanya menjadi tempat tungganganmu. Ia menjaga dan mengawasimu. Ia rela lapar asal engkau kenyang. Rela begadang asal engkau tidur. Ia sangat cinta dan sayang padamu.

Jika ia hilang darimu, engkau memanggilnya. Jika kau tertimpa sesuatu yang menyusahkan, kau minta tolong padanya. Dalam anggapanmu, setiap kebaikan ada padanya. Engkau anggap bahaya tidak akan menimpamu jika engkau dalam pelukannya atau kalau ia memperhatikanmu.

Adapun ayahmu, karena kamu, ia menjadi penakut dan kikir. Ia berusaha untukmu. Agar engkau tidak tersakiti, ia berpindah-pindah bepergian jauh. Ia tempuh daerah datar dan tinggi sambil menghadapi bahaya. Hanya untuk mencari sesuap nasi kehidupan untuk diberikan padamu. Ia merawat dan mendidikmu. Jika engkau datang padanya, engkau merasa senang dan ia pun senang. Jika ia keluar, engkau merasa bergantung padanya. Jika ia pulang, engkau peluk pinggangnya dengan erat … . Kau takut-takuti orang dengan ayahmu. Dan kau ancam mereka dengan perbuataan ayahmu … .

Itulah mereka berdua dan itu masa bayi dan kecilmu, maka mengapa engkau enggan berbuat baik? Mengapa engkau jadi kaku dan kasar? Seakan-akan hanya engkau yang diberi nikmat.

Sesungguhnya perangai yang jahat dan kecelakaan serta kerugian kalau orang tua dikejutkan dengan perbuatan anak yang enggan berbuat baik kepada mereka. Keduanya telah berbuat baik, tapi orang yang celaka ini pura-pura lupa kelemahan dan masa kecilnya. Dia merasa sombong dengan keadaan dan keahliannya. Dia tertipu dengan ilmu dan wawasannya. Menyombongkan wibawa dan kedudukannya. Dia menyakiti ibunya dengan kata-kata yang pedas dan gerutu. Menyikapi keduanya dengan jelek dan dengan ucapan yang keji. Dia bentak dan hardik keduanya. Bahkan kadang-kadang dia tega menampar dan menendang keduanya. Keduanya berharap sang anak hidup, tapi sang anak berharap keduanya cepat mati. Seakan-akan keduanya berharap jadi pasangan yang mandul saja dulunya.

Rasa Hormat Menangisi Keduanya

Hai orang yang celaka! Bukankah kalau telah tua keduanya butuh kepadamu? Tapi kau sia-siakan mereka?! Kau lebih mendahulukan yang lain dari keduanya dalam berbuat baik. Dan kau lupakan keduanya … . Apakah kau tidak tahu bahwa orang yang berbuat baik kepada kedua orang tua nantinya akan ditaati oleh anaknya? Dan sebaliknya kalau dia durhaka kepada kedua orang tuanya, anaknya nanti juga akan durhaka kepadanya. Kau juga nantinya akan butuh kepada kebaikan anak-anakmu. Dan mereka akan memperlakukanmu seperti perlakuanmu kepada kedua orang tuamu. Sebagaimana engkau bersikap, demikian juga engkau disikapi. Dan balasan itu karena amalan. (Dinukil dari Wabil Walidaini Ihsana halaman 37-39)

Dikisahkan, suatu hari ada seorang ayah yang tua diajak pergi ke sebuah lembah oleh anaknya. Ketika sampai di lembah sunyi itu, sang anak berkata : “Wahai ayah, aku akan menyembelihmu di sini.” (Subhanallah, anak menyembelih anaknya!!) Maka sang ayah berkata : “Wahai anakku, sebelum engkau menyembelihku, kuberitahukan kepadamu bahwa dulu aku pernah menyembelih ayahku di sini!” (Dinukil dari kaset Hakadza ‘Allamatnil Hayah)

Memang … .

“Bagaimana engkau bersikap, demikian engkau akan disikapi.”

Beberapa Contoh Dari Para Salaf

Ibnul Munkadir berkata : “Saudaraku ‘Umar menghabiskan malamnya dengan shalat, tapi aku menghabiskan malamku dengan mengurut kaki ibuku. Dan malamku dengan seperti itu lebih aku sukai dari malam saudaraku itu.” (Dari kitab Siyar A’lamin Nubala’ 5/405)

Ibnul Hasan At Tamimi ingin membunuh seekor kalajengking tapi ternyata hewan itu masuk ke lubang. Maka Ibnul Hasan memasukkan jarinya ke lubang itu untuk membunuhnya, akhirnya dia disengat. Maka ada yang bertanya kepadanya. Dia menjawab : “Aku takut kalau hewan itu keluar dan menyengat ibuku.” (Siyar A’lamun Nubala’ 541)

Ibnu ‘Aun Al Muzani pernah dipanggil ibunya maka suaranya mengalahkan suara ibunya (lebih tinggi). Karena perbuatan tersebut, dia membebaskan dua budak. Qurrah bin Khal berkata : “Kami ketika itu kagum kepada sifat wara’-nya Muhammad bin Sirrin, maka perbuatan Ibnu ‘Aun membuat kami lupa kepadanya.” (Tahdzib Siyar A’lamin Nubala’ 544)

‘Abdullah bin Ja’far bin Khaqun Al Marwadzi berkata : “Aku hendak keluar (setelah mengumpulkan hadits Bashrah) namun ibuku melarangku. Maka aku taat padanya sehingga aku diberkahi karenanya.” (Siyar A’lamin Nubala’ 12/145)

Kata Ja’far Al Khalidi, Abbar adalah seorang ulama hadits di Baghdad dan dia seorang yang zuhud. Suatu saat dia meminta ijin kepada ibunya untuk rihlah (safar menuntut ilmu) ke Qutaibah. Tapi sang ibu tidak mengijinkannya. Kemudian ibunya wafat. Maka mereka mengunjunginya karena itu. Ia berkata : “Ini buah ilmu, yaitu aku memilih ridla ibuku.” (Siyar A’lamin Nubala’ 13/443)

Ibnul Jauzi berkata : “Sampai kepada kami cerita tentang ‘Umar bin Dzarr. Ketika anaknya wafat, ada yang bertanya kepadanya : “Bagaimana bakti anak itu padamu?” Dia menjawab : “Kalau di siang hari, dia selalu jalan di belakangku. Dan kalau malam hari dia selalu jalan di depanku. Dia tidak pernah tidur di tempat yang lebih tinggi dariku.”

Abu Hurairah, jika keluar dari rumahnya selalu berhenti di depan pintu ibunya sambil berkata : “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, wahai ibuku!” Dan ibunya menjawab : “Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh, wahai anakku!” Abu Hurairah lalu berkata : “Semoga Allah menyayangimu sebagaimana engkau telah mendidikku di waktu kecil.” Maka ibunya berkata : “Semoga Allah juga menyayangimu sebagaimana engkau telah berbuat baik kepadaku di masa tuaku.”

Anas bin An Nadhr berkata : “Ibunya Ibnu Mas’ud meminta air kepadanya di sebagian malam, maka ketika dia datang membawa air dia dapati ibunya telah tidur. Maka dia tetap memegang air di arah kepalanya sampai pagi.”

Al Hasan bin ‘Ali tidak mau makan bersama ibunya. Dan dia adalah orang yang paling baik kepada ibunya. Ketika ada yang menanyakan kepadanya tentang hal itu, dia menjawab : “Aku khawatir kalau aku makan dengan ibuku karena aku tak tahu kalau sampai aku memakan makanan yang disukainya.” (Dinukil dari kitab Birul Walidain Ibnul Jauzi halaman 53-55 dan Wabil Walidaini Ihsana halaman 40-43)

Antara Orang Tua Dan Istri

Sering kita dengar seorang pria tertipu hingga dia menganggap istrinya sebagai tempat akhir pemuliaan, sementara itu dia meremehkan ibunya dan dia memandang ibunya dengan pandangan permusuhan.

Karena ikatan anak dengan kedua orang tua adalah ikatan darah, nyawa, cinta, dan keturunan. Sedangkan ikatan dengan istrinya hanya ikatan cinta, kasih, dan sayang, maka janganlah dia lebih mementingkan istrinya dan mengabaikan kedua orang tuanya. Dia wajib berusaha sekuat tenaga untuk menimbulkan sikap saling mengerti. Dan hendaknya sang istri mengalah karena hak kedua orang tua lebih besar dan agung dan agar sang suami tidak terpaksa menceraikannya.

Ada seseorang datang kepada Abu Darda’ radliyallahu ‘anhu sambil berkata : “Ayahku terus bersamaku hingga dia menikahkanku. Dan sekarang dia menyuruhku untuk menceraikan istriku.” Abu Darda’ berkata : Aku tidak menyuruhmu untuk durhaka kepada kedua orang tuamu dan tidak menyuruhmu untuk menceraikan istrimu. Kalau kamu mau aku akan beritakan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Beliau pernah bersabda :

“Ayah adalah tonggak dari pintu-pintu Surga. Maka jagalah pintu itu jika kau ingin atau tinggalkan.” (HR. Tirmidzi nomor 1900 dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi)

Janganlah seorang lelaki menganggap ucapan istrinya dan khabar-khabar darinya dengan pasti hingga dia menetapkan hukum atasnya. Khususnya kalau ucapan itu mengandung pencelaan kepada seseorang, apakah dalam keluarga atau di luar anggota keluarga. Tapi hendaklah dia meneliti benar atau salah sebelum dia mempercayainya. Dan dia bisa lihat dalam Al Qur’an bahwa kesaksian dua wanita sebanding dengan satu pria, sebagai peringatan dan nasehat. (Wabil Walidaini Ihsana halaman 56-57)

Jika Kedua Orang Tua Telah Tiada

Bila kedua orang tua telah tiada maka kita berbuat baik kepada teman-temannya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

“Siapa yang ingin menyambung hubungannya dengan ayahnya di kubur, hendaklah ia menyambung hubungan dengan teman-teman ayahnya sepeninggalnya.” (Lihat Ash Shahihah nomor 1432)

Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhu berkata : Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kemudian berkata : “Aku telah berdosa besar, maka apakah aku bisa bertaubat?” Beliau bersabda : “Apakah engkau memiliki ibu?” Orang itu menjawab : “Tidak.” Beliau bersabda lagi : “Apakah engkau masih memiliki bibi (saudara wanita ibu)?” Orang itu menjawab : “Ya.” Lalu Nabi bersabda : “Kepadanyalah engkau berbuat baik.” (HR. Tirmidzi nomor 1905. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah berkata :

“Bibi itu kedudukannya seperti kedudukan ibu.” (HR. Bukhari nomor 4251)

Ibnu Dinar menceritakan bahwasanya ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma bila keluar ke Makkah menunggangi keledai dan memakai sorban di kepalanya. Pada suatu hari ketika dia berada di atas keledainya, ia melewati seorang Arab Badui, maka orang itu berkata kepadanya : “Bukankah engkau fulan anak fulan?” Abdullah bin ‘Umar menjawab : “Benar.” Lalu Ibnu ‘Umar turun dan memberikan keledai dan sorbannya kepada orang itu seraya berkata : “Naikilah keledai ini dan ikatlah kepalamu dengan sorban ini.” Mengetahui kejadian itu, sebagian teman-teman Ibnu ‘Umar berkata kepadanya : “Semoga Allah mengampunimu, engkau berikan keledaimu dan sorban di kepalamu kepada orang itu sedangkan engkau membutuhkannya?” Maka ia menjawab : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya sebaik-baik kebaikan adalah seseorang menyambung hubungan dengan orang yang dicintai ayahnya setelah dia (ayah) wafat.” Dan ayahnya orang Badui ini adalah temannya ‘Umar radliyallahu ‘anhu. (HR. Muslim)

Aisyah radliyallahu ‘anha berkata : “Aku tidak pernah cemburu kepada para istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam seperti cemburuku kepada Khadijah, walau tidak pernah sekalipun aku melihatnya. Tapi Nabi sering menyebut-nyebutnya. Kadang beliau menyembelih kambing kemudian mengambil beberapa potong dan beliau kirimkan kepada teman-teman Khadijah. Pernah aku berkata kepada Nabi : “Seakan-akan tidak ada di dunia ini kecuali Khadijah!” Maka beliau bersabda : “Dia demikian dan demikian dan aku mendapat anak darinya.” (HR. Bukhari 7/102-103 dan Muslim nomor 2435 dan 2437)

Beberapa Nasihat Tentang Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua

1. Berbicaralah kepada kedua orang tua dengan adab. Dan janganlah engkau membentak keduanya. Dan ucapkanlah perkataan yang mulia.

2. Taatilah kedua orang tuamu selain dalam perkara maksiat, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka maksiat kepada Allah.

3. Berlaku lembutlah kepada keduanya dan janganlah engkau bermuka masam dan jangan melihat dengan marah.

4. Jagalah nama baik, kehormatan, dan harta kedua orang tuamu. Dan jangan engkau mengambil tanpa ijinnya.

5. Lakukanlah apa yang menyenangkan keduanya walau tanpa perintah keduanya, seperti membantu pekerjaan, belanja keperluan, dan bersungguh-sungguh dalam belajar.

6. Bermusyawarahlah dengan keduanya dalam semua pekerjaanmu dan mintalah maaf kepada mereka kalau kau terpaksa tidak cocok.

7. Penuhi panggilan keduanya dengan cepat disertai wajah penuh senyuman dan berkatalah ‘ya abi’, ‘ya ummi’, dan jangan dengan ‘ya papa’, ‘ya mama’. Karena itu bahasa ajnabi (asing).

8. Muliakan tamu mereka dan kerabat mereka ketika mereka hidup dan setelah wafat.

9. Jangan kau debat dan jangan salah-salahkan mereka dan gunakan adab untuk menerangkan yang benar kepada mereka.

10. Jangan kau lawan mereka. Dan jangan kau tinggikan suaramu melebihi suara mereka. Diamlah kalau mereka berbicara. Beradablah kepada keduanya dan jangan engkau membentak saudara-saudaramu karena menghormati keduanya.

11. Sambutlah kedua orang tuamu kalau mereka datang dan kecuplah kening keduanya.

12. Bantulah ibumu di rumah dan jangan terlambat membantu ayahmu.

13. Jangan kau pergi kalau keduanya tidak mengijinkan walau untuk urusan yang penting. Jika kau terpaksa mintalah udzur kepada mereka. Dan jangan putus dalam menulis surat kepada mereka.

14. Jangan kamu masuk ke dalam kamar keduanya tanpa seijin keduanya, terlebih waktu tidur dan istirahat.

15. Jangan mengambil makanan sebelum mereka. Muliakan mereka dalam makan dan minum.

16. Jangan mendustai keduanya. Jangan engkau cela bila keduanya berbuat yang tidak menyenangkanmu.

17. Jangan kau lebih memuliakan istri dan anak-anakmu melebihi mereka. Mintalah keridlaan mereka dalam segala sesuatu. Karena ridla keduanya adalah juga keridlaan Allah dan kemurkaan keduanya adalah kemurkaan Allah.

18. Jangan engkau membangga-banggakan jabatanmu kepada ayahmu, walau engkau menyandang jabatan yang tinggi. Dan hati-hatilah kalau sampai mengingkari kebaikan keduanya atau menyakiti mereka walau dengan sepatah kata.

19. Jangan bakhil dalam memberi nafkah kepada kedua orang tuamu hingga akibatnya mereka mengadu kepadamu. Ini suatu aib bagimu. Dan itu akan engkau lihat dan alami pada anak-anakmu. Sebagaimana engkau bersikap, seperti itu juga engkau akan disikapi.

20. Sering-seringlah mengunjungi dan memberi hadiah kepada keduanya. Dan berterimakasihlah kepada mereka karena mereka telah mengasuhmu dengan susah payah. Dan contohkanlah itu kepada anak-anakmu.

21. Manusia yang paling berhak untuk engkau utamakan adalah ibumu kemudian ayahmu. Dan ketahuilah bahwa Surga berada di bawah telapak kaki ibu.

22. Hati-hati, jangan sampai engkau durhaka kepada mereka. Dan jangan membuat mereka marah, karena engkau akan celaka di dunia dan di akhirat. Dan anak-anakmu kelak akan menyikapimu seperti sikapmu terhadap orang tuamu.

23. Bila engkau meminta sesuatu kepada mereka mintalah dengan lembut dan berterimakasihlah kalau diberi. Dan mohon maaflah kalau tidak diberi, janganlah banyak meminta agar keduanya tidak merasa susah.

24. Jika kamu mampu mencari rejeki di waktu pagi, kerjalah dan bantulah mereka.

25. Sesungguhnya kedua orang tuamu memiliki hak atasmu. Dan istrimu juga. Berilah setiap yang berhak akan haknya. Usahakan merukunkan keduanya bila berselisih.

26. Jika keduanya bertengkar dengan istrimu, jadilah orang yang bijaksana dan pahamkan istrimu bahwa engkau di pihaknya kalau dia benar dan engkau terpaksa agar keduanya ridla.

27. Jika istrimu berselisih dengan orang tuamu dalam masalah nikah dan talak, maka berhukumlah dengan syariat karena itu sebaik-baik pembantu kalian.

28. Doa orang tua terkabul dalam perkara yang baik maupun yang jelek, maka hati-hatilah terhadap doa jelek mereka.

29. Beradablah terhadap manusia, karena siapa yang mencela manusia, dia juga akan mendapat cela dari mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Termasuk dosa besar adalah anak mencela kedua orang tuanya, yaitu dia mencela ayah orang lain, maka orang itu balas mencela ayahnya. Dan dia mencela ibu orang lain, maka orang itu mencela ibunya.” (HR. Bukhari 10/330 dan Muslim nomor 90)

30. Kunjungilah kedua orang tuamu ketika masih hidup. Perbanyaklah berdoa untuk mereka dengan mengucap :

“Wahai Rabbku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Wahai Rabbku, rahmatilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku di waktu kecil.” (Taujihat Islamiyyah karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu halaman 71-74)

Penutup

Aku berharap dengan tulisan ini agar menjadi :

  • Pengajaran bagi yang belum mengerti hak-hak kedua orang tua.

  • Peringatan bagi yang lupa tentang salah satu pintu dari pintu-pintu menuju Surga yang hampir tertutup.

  • Bantuan bagi yang meremehkannya.

  • Ancaman bagi yang durhaka yang hampir terjerumus ke jurang neraka.

Aku berlindung kepada Allah dari durhaka kepada orang tua.

  • Dah aku berharap kepada-Mu, Ya Allah, agar mengampuni kedua orang tuaku dan merahmati mereka sebagaimana keduanya mendidikku di waktu kecilku.

  • Dan agar Engkau memberikan balasan yang baik kepada kedua orang tuaku seperti apa yang Engkau berikan kepada kedua orang tua karena anaknya.

  • Dan agar Engkau mengampuni kesalahan-kesalahan, kekeliruan-kekeliruan, kelancangan, dan kekuranganku.

”Maha Suci Engkau, Ya Allah dan segala pujian untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada illah yang berhak untuk disembah kecuali Engkau. Aku mohon ampun pada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.”

(Dinukil dari Wabil Walidaini Ihsana halaman 74)

Wallahu A’lam Bis Shawab.

(Kuhadiahkan tulisan ini untuk ayah dan ibuku yang aku cintai : Ismail Piliang dan Nurnani Sikumbang)

Yogya, Ramadlan 1417 H.

Posted in Tauziyah | 5 Comments »

Konsep Sehat dan Sakit dalam Islam

Posted by drfatnan pada September 23, 2008

Konsep sehat dan sakit bagi kebanyakan orang masih membingungkan dan kurang jelas. Apalagi kita sebagai seorang muslim haruslah tahu dan wajib memahaminya. Kkebetulan disaat browsing dan searching artikel,saya menemukan artikel dari multiply perihal konsep sehat dan sakit. Akh muhammad menulisnya dengan ringkas, sederhana dan jelas. Agar tidak mengurangi keorisinalitas ide beliau, tulisan tersebut tidak saya ubah sedikitpun.

Sakit dan penyakit merupakan suatu peristiwa yang selalu menyertai hidup manusia sejak jaman Nabi Adam. Kita memahami apapun yang menimpa manusia adalah takdir, sakit pun merupakan takdir. Lantas kalau sakit merupakan takdir, kalau kita sakit kenapa harus mencari sehat /kesembuhan? Lantas buat apa dan apa manfaat berobat? Dari sinilah landasan kita berpijak dalam memahami sehat, sakit, obat dan upaya pengobatan.

SEHAT – SAKIT PANDANGAN ALQURAN
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.
(Al Quran Surah Al Anbiyaa’ [21]:83-84)

Ayat diatas mengisahkan Nabi Ayub yang ditimpa penyakit, kehilangan harta dan anak-anaknya. Dari seluruh tubuhnya hanya hati dan lidahnya yang tidak tertimpa penyakit, karena dua organ inilah yang dibiarkan Allah tetap baik dan digunakan oleh Nabi Ayub untuk berzikir dan memohon keridhoan Allah, dan Allah pun mengabulkan doanya, hingga akhirnya Nabi Ayub sembuh dan dikembalikan harta dan keluarganya.

Dari sini dapat diambil pelajaran agar manusia tidak berprasangka buruk kepada Allah, tidak berputus asa akan rahmat Allah serta bersabar dalam menerima takdir Allah. Karena kita sebagai manusia perlu meyakini bahwa apabila Allah mentakdirkan sakit maka kita akan sakit, begitu pula apabila Allah mentakdirkan kesembuhan, tiada daya upaya kecuali dengan izin-Nya kita sembuh.

(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan Aku, Maka Dialah yang menunjuki Aku. Dan Tuhanku, yang Dia memberi Makan dan minum kepadaKu. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku. Dan yang akan mematikan Aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan yang Amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (Al Quran surah Asy Syu’araa’ [26]: 78 – 82)

KONSEP SAKIT
Di hadapan Allah, orang sakit bukanlah orang yang hina. Mereka justru memiliki kedudukan yang sangat mulia.

“Tidak ada yang yang menimpa seorang muslim kepenatan, sakit yang berkesinambungan (kronis), kebimbangan, kesedihan, penderitaan, kesusahan, sampai pun duri yang ia tertusuk karenanya, kecuali dengan itu Allah menghapus dosanya.:
(Hadist diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

SakitBahkan Allah menjanjikan apabila orang yang sakit apabila ia bersabar dan berikhtirar dalam sakitnya, selain Allah menghapus dosa-dosanya.

“Tidaklah seorang muslim tertimpa derita dari penyakit atau perkara lain kecuali Allah hapuskan dengannya (dari sakit tersebut) kejelekan-kejelekannya (dosa-dosanya) sebagaimana pohon menggugurkan daunnya.”
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

“Jika kamu menjenguk orang sakit, mintalah kepadanya agar berdoa kepada Allah untukmu, karena doa orang yang sakit seperti doa para malaikat.”
(HR. Asy-Suyuti)

KONSEP SEHAT
Nabi Muhammad SAW lewat sunnahnya memberi perhatian yang serius terhadap kesehatan manusia. Sunnah Nabi menganggap keselamatan dan kesehatan sebagai nikmat Allah yang terbesar yang harus diterima dengan rasa syukur.

Firman Allah dalam Al Quran Surah Ibrahim [14]:7
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Bentuk syukur terhadap nikmat Allah melalui kesehatan ini adalah senantiasa menjaga kesehatan sesuai dengan sunnatullah.

Rasulullah bersabda. “Dua nikmat yang sering tidak diperhatikan oleh kebanyakan manusia yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas)

NB :

Jalan ringan lebih baik

Jalan ringan lebih baik

Menjaga kesehatan mutlak dilakukan oleh kita semua dengan cara2 yang murah dan efektif. Lebih baik berjalan kaki 30 menit/hari daripada berlari 1 kali seminggu 2 jam.Setuju?? karena kita harus Membudayakan hidup sehat karena Sehat adalah Gaya Hidup.

Posted in Kesehatan | 2 Comments »

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.