Air Putih

Budayakan Hidup Sehat karena Sehat adalah Gaya Hidup

Onani??

Posted by drfatnan pada Desember 19, 2007

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum melakukan kebiasaan tersembunyi (onani) ?Jawaban:
Melakukan kebiasaan tersembunyi (onani)

yaitu mengeluarkan mani dengan tangan atau lainnya hukumnya adalah haram berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah serta penelitian yang benar.

Al-Qur’an mengatakan.Artinya : Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampui batas [Al-Mu’minun : 5-7]

Siapa saja mengikuti dorongan syahwatnya bukan pada istrinya atau budaknya, maka ia telah mencari yang di balik itu, dan berarti ia melanggar batas berdasarkan ayat di atas.

Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.Artinya : Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya.

Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak mampu menikah agar berpuasa. Kalau sekiranya melakukan onani itu boleh, tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannya. Oleh karena beliau tidak menganjurkannya, padahal mudah dilakukan, maka secara pasti dapat diketahui bahwa melakukan onani itu tidak boleh.Penelitian yang benar pun telah membuktikan banyak bahaya yang timbul akibat kebiasaan tersembunyi itu, sebagaimana telah dijelaskan oleh para dokter. Ada bahayanya yang kembali kepada tubuh dan kepada system reproduksi, kepada fikiran dan juga kepada sikap. Bahkan dapat menghambat pernikahan yang sesungguhnya. Sebab apabila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan biologisnya dengan cara seperti itu, maka boleh jadi ia tidak menghiraukan pernikahan.

[As-ilah Muhimmah Ajaba ‘Alaiha Ibnu Utsaimin, hal. 9]

pendapat lain tentang Onani

Onani, masturbasi, coli, main sabun, dst dst merupakan satu istilah untuk menyatakan kegiatan yg dilakukan seseorang yg masih muda dalam memenuhi kebutuhan seksualnya, dengan menggunakan tambahan alat bantu sabun atau benda-benda lain, sehingga dengannya dia bisa mengeluarkan mani dan membuat dirinya (lebih) tenang.

Istilah Onani sendiri, berdasar dari beberapa buku yg aku baca, berasal dari kata Onan, salah seorang anak dari Judas, cucu dari Jacob. Dalam salah satu cerita di Injil, diceritakan bahwa Onan disuruh ayahnya (Judas) untuk bersetubuh dengan istri kakaknya, namun Onan tidak bisa melakukannya sehingga saat mencapai puncaknya, dia membuang sperma/mani-nya di luar (di kemudian hari tindakan ini dikenal dg istilah azl (Arab) atau coitus interruptus (istilah kedokterannya). (catatan: dari beberapa rujukan yg aku terima ada 2 versi utk kasus Onan ini. Ada yg berpendapat bahwa Onan berhubungan badan dg istri kakaknya lalu membuang mani di luar, ada yg menyebutkan Onan tidak menyetubuhi istri kakaknya ini dan melakukan pemuasan diri sendiri).

Bagaimana hukum onani di Islam?

Banyak ulama yang menyatakan haram, dengan dasar surat Al Mu’minun (23):5-7, yg artinya (lebih kurang):
“Dan, orang-orang yg memelihara kemaluannya kecuali terhadap istrinya atau hamba sahayanya, mereka yg demikian itu tidak tercela. Tetpai, siapa mau selain yg demikian itu, maka mereka itu adalah orang-orang yg melewati batas”
Dengan demikian, onani adalah orang yg tidak melepaskan syahwat BUKAN pada tempatnya.

Ahmad bin Hanbal sendiri mempunyai pendapat bahwa mani adalah barang kelebihan, dengan demikian dia boleh dikeluarkan. Pendapat ini diperkuat oleh Ibnu Hazm. Akan tetapi, kondisi ini diperketat dg syarat2 yg ditetapkan oleh ulama-ulama Hanafiah, yakni:
1. takut berbuat zina;
2. tidak mampu kawin.

Dengan kata lain, dengan dalil dari Imam Ahmad ini, onani boleh dilakukan apabila suatu ketika insting (birahi) itu memuncak dan dikhawatirkan bisa membuat yang bersangkutan jatuh/melakukan hal yg haram. Misalnya, seorang pemuda yg sedang belajar di luar negeri, karena lingkungan yg terlalu bebas baginya (dibandingkan dengan kondisi asalnya) akibatnya dia sering merasakan instingnya memuncak. Daripada dia melakukan perbuatan zina, maka dalam kasus ini dia diperbolehkan onani.

Akan tetapi, bagaimanapun kondisinya, alangkah lebih baik jika petunjuk Rasululloh SAW yg diikuti. Beliau menganjurkan bagi para pemuda yg instingnya senantiasa bergelora untuk segera menikah. Apabila belum sanggup menikah, maka beliau menyarankan untuk memperbanyak melakukan shaum/puasa (senin-kamis, atau puasa sunnah lainnya), karena puasa dapat mendidik beribadah, mengajar bersabar, dan menguatkan kecekatan untuk bertakwa dan keyakinan terhadap pengamatan ALLOH terhadap tiap jiwa.

Selain itu, onani bisa ‘menyesatkan’ karena efek ketagihannya, dan jika dilakukan di bulan Ramadhan akan MEMBATALKAN PUASA KITA, karena onani = perbuatan yg sengaja untuk mengeluarkan mani. Perbuatan ini dikategorikan sebagai hal yg bisa membatalkan puasa.

Dari uraian di atas, aku menyimpulkan bahwa meski onani diperbolehkan (dg syarat2 yg telah ditetapkan), namun alangkah baiknya tidak dilakukan untuk menghindari hal2 yg tidak diinginkan di kemudian hari. Adapun sebagai solusi dari insting (birahi/libido) yg tinggi, sebaiknya kita perbanyak berpuasa karena banyaknya manfaat yg bisa dicapai.

Selain itu jika onani ini dilakukan terus, dengan frekuensi dan fantasi seksual tertentu, hal itu dapat membuat onani menjadi “ukuran ideal” kenikmatan seksual. Akibat terjauh adalah perasaan yang tak nikmat dikala melakukan hubungan seks yang sebanarnya. Dari banyak tulisan kesehatan dan konsultasi yg aku baca, banyak kasus bagi pelaku onani adalah perasaan, “kok lebih enak dengan onani daripada hubungan intim?” Nah, kondisi hal semacam itulah yang harus dihindari karena membuat hubungan seks menjadi hambar, ejakulasi dini terjadi, dan tak dapat memuaskan pasangan.

Pada akhirnya, semuanya aku serahkan pada pembaca, apakah akan melakukan onani atau berusaha meredamnya dg banyak melakukan puasa…insya ALLOH berpuasa yg lebih utama dan lebih bermanfaat:)

5 Tanggapan to “Onani??”

  1. nirwan said

    🙂 tulisan menarik. ada caption keren: “..Dari banyak tulisan kesehatan dan konsultasi yg aku baca, banyak kasus bagi pelaku onani adalah perasaan, “kok lebih enak dengan onani daripada hubungan intim?”

    nah, yg ini emang perlu segera diperiksakan ke dokter jiwa😀

  2. nirwan said

    oiya…halaman “about”-nya kok masih kosong😀

  3. chudhel said

    bagus tuh artikel…. tp klo mnurut w sih gpp…. cz dri pd qta berbwt zina..???, mending melampiaskan nya lewat Onani tersebut,,, ini bukan kata gw lo…

    nie kata tmn w… he..he..he..her..he..he..he.he..he.he..he.he.h.he.he.

  4. suheri said

    onani kebamyakan pria kyanya ngelakuin tuhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

  5. Okelah klo bgitu…
    Alhmdlilah dr uraian td, aku jd faham akan bhaya dr ONANI.
    Doakan aku y mga lekas sdar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: